Terkini
NPC Indonesia Sambut Positif Kehadiran Kategori Disabilitas di Kapolri Cup 2026 Indonesia Raih 16 Medali di World Para Athletics Grand Prix 2026 Road to the Crown Dimulai! Miss Universe 2026 Resmi Umumkan Jadwal Final dan Rangkaian Agenda Utama Supramodel of the Year Miss Supranational 2026, Deretan Finalis Favorit Tampil Memukau Optik Melawai Vision Run 2026: Ajang Lari yang Mengajak Pelari Menatap Finish Line Lebih Jelas Kathrine Switzer: Wanita yang Mengubah Sejarah Lari Dunia Ksatria Fest 3.0 Satukan Tradisi dan Kreativitas Lewat Konsep TradiPop, Dukungan Publik Bersama Kreen Indonesia Voting Digital Terpercaya Grand Final Model Wisata Indonesia 2026 Angkat Talenta Muda Promosikan Pariwisata Nusantara, Voting Juara Favorit Didukung Kreen Indonesia NPC Indonesia Sambut Positif Kehadiran Kategori Disabilitas di Kapolri Cup 2026 Indonesia Raih 16 Medali di World Para Athletics Grand Prix 2026 Road to the Crown Dimulai! Miss Universe 2026 Resmi Umumkan Jadwal Final dan Rangkaian Agenda Utama Supramodel of the Year Miss Supranational 2026, Deretan Finalis Favorit Tampil Memukau Optik Melawai Vision Run 2026: Ajang Lari yang Mengajak Pelari Menatap Finish Line Lebih Jelas Kathrine Switzer: Wanita yang Mengubah Sejarah Lari Dunia Ksatria Fest 3.0 Satukan Tradisi dan Kreativitas Lewat Konsep TradiPop, Dukungan Publik Bersama Kreen Indonesia Voting Digital Terpercaya Grand Final Model Wisata Indonesia 2026 Angkat Talenta Muda Promosikan Pariwisata Nusantara, Voting Juara Favorit Didukung Kreen Indonesia
Kreen Media
Sport

Saptoyogo Purnomo: Jawara Paralimpik Indonesia

K
Kreen Media
12 May 2026 1 menit baca
Saptoyogo Purnomo: Jawara Paralimpik Indonesia

Sumber foto: suaramerdeka.com 

Di balik setiap langkah kencang yang melesat di lintasan atletik, ada kisah yang jauh lebih berat dari beban fisik yang ia bawa. Saptoyogo Purnomo, atlet para atletik kebanggaan Indonesia, sukses mencetak sejarah dengan menjadi pembawa medali pertama bagi kontingen Merah Putih di Paralimpiade Paris 2024, bahkan melampaui target yang telah dibebankan kepadanya.

Namun siapa sangka, perjalanan menuju panggung dunia itu dimulai dari kondisi yang penuh tantangan sejak lahir.

Lahir dengan Kondisi yang Tak Dipilih

Saptoyogo Purnomo lahir pada 17 September 1998 di Banyumas, Jawa Tengah. Ketika baru berusia tiga bulan, demam tinggi yang parah menghantam tubuhnya, meninggalkan dampak permanen berupa cerebral palsy, kondisi yang memengaruhi kemampuan motoriknya, terutama di sisi kanan tubuh.

Kondisi tersebut membuat tangan dan kaki kanan Sapto terasa lebih lemah dan kaku dibandingkan orang pada umumnya. Di masa kecil, ia pun kerap menjadi sasaran olok-olok dari teman sebayanya. Namun cemoohan itu tidak membuatnya diam, justru sebaliknya, ia memilih membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya.

Menemukan Panggilan di Lintasan Sprint

Saptoyogo pertama kali mengenal dunia lari saat berusia 16 tahun. Meski baru mencoba, ia langsung jatuh cinta pada cabang sprint dan kecintaan itu tak pernah padam hingga hari ini.

Debut nasionalnya langsung meledak. Saat masih duduk di kelas XI SMK dan mewakili Jawa Tengah, Sapto tampil di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2016 di Bandung dan memborong lima medali emas sekaligus, dari nomor lari 100 meter, 200 meter, estafet 4x100 meter, estafet 4x400 meter, hingga lompat jauh. Sejak saat itu, namanya resmi masuk radar National Paralympic Committee Indonesia (NPCI).

Mendominasi Panggung Internasional

Prestasi nasional menjadi batu loncatan ke arena dunia. Saptoyogo mendominasi kategori T37 di nomor 100 dan 200 meter, dan hingga kini telah menggenggam enam medali emas ASEAN Para Games, selalu meraih dua emas dari tiga edisi terakhir yakni 2017, 2022, dan 2023.

Di tingkat yang lebih bergengsi, Sapto telah menorehkan namanya di berbagai ajang internasional, mulai dari ASIAN Youth Para Games, ASIAN Para Games, World Abilitysport Games, hingga World Championship.

Puncak pertama karier Olimpiadenya datang di Tokyo. Di Paralimpiade Tokyo 2020, Saptoyogo finis ketiga di final 100 meter T37 putra dengan catatan waktu 11,31 detik, sekaligus mencatat sejarah sebagai medali pertama Indonesia di cabang para atletik.

Paris 2024: Melampaui Batas, Melampaui Target

Di Paris, Sapto kembali mengukir sejarah baru. Ia menorehkan catatan waktu terbaiknya, 11,26 detik, lebih cepat dari perolehan sebelumnya. Meski sempat dihadapkan pada cuaca buruk yang mengguncang mentalnya, Saptoyogo mampu mengatasi tekanan dan pulang membawa medali perak, melampaui target awal yang hanya perunggu.

Pelatih para atletik Indonesia, Purwo Adi Sanyoto, mengagumi salah satu keunggulan Sapto yaitu kemampuannya memulai lomba dengan start yang sangat cepat, sehingga mampu mempertahankan kecepatan hingga garis finis

Mimpi Belum Berhenti: ASEAN Para Games 2025

Sapto tidak berhenti di Paris. Pada ASEAN Para Games 2025 di Thailand, penampilan keempat sekaligus yang paling ambisius, Saptoyogo dijadwalkan turun di empat nomor berbeda dan menargetkan keempat-empatnya berakhir dengan medali emas.

"Ini harapan saya, kontingen yang lain bisa memenuhi target. Saya di Thailand ikut 4 nomor, ditargetkan medali emas semua bisa terwujud," kata Saptoyogo.

Lebih dari Sekadar Atlet

Di luar lintasan, Saptoyogo tidak hanya berfokus pada prestasi pribadi. Ia aktif berbagi pengalaman melalui media sosial dan acara motivasi, mendorong generasi muda, terutama mereka yang hidup dengan disabilitas, untuk tidak menyerah pada impian mereka.

Kisah Saptoyogo Purnomo adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik hanyalah satu variabel kecil dalam persamaan besar bernama kegigihan. Ia tidak berlari untuk membuktikan bahwa dirinya "normal", ia berlari karena memang lahir untuk berjuang, dan menang.

Ikuti terus update seputar dunia sport di sini!

Topik
Saptoyogo Purnomo atlet paralimpik Indonesia cerebral palsy atlet Indonesia paralimpiade Paris 2024 medali perak ASEAN Para Games 2025 sprinter difabel Indonesia atlet para atletik T37 inspirasi